NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI SEDEKAH KAMPUNG PERADONG

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

DALAM TRADISI SEDEKAH KAMPUNG PERADONG

Oleh: Suryan, S.Pd.I

Abstrak

Diangkatnya permasalahan ini berdasarkan pertimbangan, bahwa saat ini  semakin surut dan tenggelamnya tradisi-tradisi lokal yang banyak mengandung nilai-nilai pendidikan Islam akibat tradisi-tradisi modern yang serba instan. Untuk itulah,  mutlak dibutuhkan usaha untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut yang ada di Bangka dan memberdayakan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Peradong, setidaknya  merupakan salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut, yang di dalamnya menggambarkan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan Islam tidak mutlak diperoleh melalui lembaga formal saja. Dilakukannya penelitian ini untuk menunjukkan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi sedekah kampung di Desa Peradong.

Penelitian ini merupakan hasil kajian dan pengamatan terhadap nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi sedekah kampung di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Penelitian ini teragolong jenis penelitian kualitatif, yang pengumpulan data utamanya dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) terhadap narasumber dan informan, kemudian diperkuat dengan pengamatan terlibat (participant observation) serta melalui dokumentasi berupa arsip desa, foto-foto, dan lain sebagainya. Selanjutnya, data yang terkumpul kemudian disesuaikan dengan teori-teori yang relevan agar didapat gambaran yang jelas atas kondisi objektif di lapangan. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan anailisis deskriptif kualitatif.

Pelaksanaan tradisi sedekah kampung yang berlansung dua hari, hari pertama diawali dengan upacara permohonan izin, dilanjutkan dengan tamat ngaji dan nganggung. Pada hari berikutnya dilakukan sunat kapong dan sore harinya dilakukan upacara penutupan. Dari pelaksanan tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi sedekah kampung di Desa Peradong terdapat tiga nilai pendidikan Islam, yaitu nilai keimanan, ibadah, dan kesehatan.

Kata-kata Kunci: Nilai-nilai Pendidikan Islam, Tradisi Sedekah Kampung, Kehidupan Beragama

1. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Setiap bangsa dan suku bangsa tentunya memiliki agama sebagai kepercayaan yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut memelihara dan melestarikan budaya yang ada.[1] Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia menurut Alisyahbana; merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[2] Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya.[3]

Tradisi sebagai salah satu bagian dari kebudayaan menurut pakar hukum F. Geny adalah fenomena yang selalu merealisasikan kebutuhan masyarakat. Sebab yang pasti dalam hubungan antar individu, ketetapan kebutuhan hak mereka, dan kebutuhan persamaan yang merupakan asas setiap keadilan menetapkan bahwa kaidah yang dikuatkan adat yang baku itu memiliki balasan materi, yang diharuskan hukum. Kaidah ini sesuai dengan naluri manusia yang tersembunyi, yang tercermin dalam penghormatan tradisi yang baku dan perasaan individu dengan rasa takut ketika melanggar apa yang telah dilakukan pendahulu mereka.[4]

Menurut Prof. Mr. Hardjono dalam I Nyoman Beratha memberikan ulasan singkat bahwa tradisi adalah suatu pengetahuan atau ajaran-ajaran yang diturunkan dari masa ke masa. Ajaran dan pengetahuan tersebut memuat tentang prinsip universal yang digambarkan menjadi kenyataan dan kebenaran yang relatif. Dengan demikian segala kenyataan dan kebenaran dalam alam yang lebih rendah itu adalah peruntukan (application) daripada prinsip-prinsip universal.[5] Sedangkan menurut Dr. Harapandi Dahri, tradisi didefinisikan sebagai berikut:

Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas. Awal-mula dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu kemudian disepakati oleh beberapa kalangan dan akhirnya diaplikasikan secara bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah ajaran yang jika ditinggalkan akan mendatangakan bahaya.[6]

Tradisi-tradisi tersebut dapat disaksikan pada; ’Upacara Tawar Laut/Ketupat Laut’, ’Tahun Baru Cina’, ’Sembahyang Kubur Cina’, ’Sembahyang Pantai’, ’Kawin Massal’,[7] ’Perang Ketupat’, ’Mandi Belimau’, ’Sedekah Kampung’,Rebo Kasan’, ’Nganggung’[8] dan lainnya yang dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan sebagai pengungkapan atas rasa syukur terhadap anugerah  yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, yang kental dengan nuansa keagamaan. Pewarisan tradisi tersebut dapat terjadi melalui pertunjukkan upacara adat pada suatu masyarakat.

Sejalan dengan pengertian di atas, upacara di sini merupakan sumber pengetahuan tentang bagaimana seseorang bertindak dan bersikap terhadap suatu gejala yang diperolehnya melalui proses belajar dari generasi sebelumnya dan kemudian harus diturunkan kepada generasi berikutnya.[9] Ritual keagamaan yang dibungkus dengan bentuk tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan berkelanjutan dalam periodik waktu tertentu, bahkan hingga terjadi akulturasi dengan budaya lokal.[10] Seperti apa yang diperlihatkan masyarakat Bangka Belitung dalam pengungkapan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta tersebut.

Kajian penelitian ini difokuskan pada tradisi Sedekah Kampung di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat, yang telah melakukan tradisi Sedekah Kampung selama puluhan tahun, yang diwariskan  oleh nenek moyang. Perayaan ini biasa dilaksanakan penduduk Desa Peradong setiap tahun bertepatan dengan bulan Maulud (Rabiul Awwal). Biasanya perayaannya berlangsung selama 2 hari, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Perayaan  ini dilaksanakan setelah lima belas hari bulan di langit[11] tahun Hijriyah. Sedekah Kampung seperti halnya tradisi-tradisi lainnya merupakan bagian dari rumpun Pesta Adat[12] yang dikenal dan banyak dilakukan di wilayah pedesaan, yang dalam pelaksanaannya tidak telepas dari nuansa keagamaan.

Terlihat dalam pelaksanaannya (selama dua hari), proses dimulai dengan arak-arakan masyarakat menuju istana[13] untuk melaksanakan ritual upacara permohonan izin melaksanakan Sedekah Kampung. Setelah upacara permohonan izin kepada leluhur, serta setelah naber dan nangkel[14] kampung selesai, kemudian dukun (tetua adat) kembali kekediamannya. Sedangkan arak-arakan masyarakat dilanjutkan dengan penjemputan peserta khataman Al-Qur’an menuju masjid untuk melaksanakan tamat ngaji (betamat[15]). Setiap arak-arakan yang dilakukan, baik arak-arakan tamat ngaji dan sunatan selalu diiringi dengan semarang (selawatan barzanji[16]). Upacara ini dilakukan sebagai pertanda bahwa seorang anak yang telah melaksanakan tamat ngaji dianggap pandai membaca Al-Qur’an. Setelah tamat ngaji selesai, acara dilanjutkan dengan nganggung bersama di masjid tersebut. Pada malam harinya (malam minggu) diadakan hiburan kampung, yaitu penampilan musik Dambus dan Campak serta nyanyian lagu-lagu daerah yang diiringi dengan tarian oleh ibu-ibu dan gadis-gadis penduduk.

Hari berikutnya, dilaksanakan upacara Sunat Kapong.[17] Dimulai pukul 03.00 WIB, peserta (anak-anak) yang akan disunat berendam di dalam air (dalam dialek masyarakat setempat ’di Aek Kapong’) kurang lebih selama 3 jam, kemudian kira-kira pukul 06.00-07.00 WIB pelaksanaan sunatan yang dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung). Setelah selesai, peserta sunatan diarak keliling kampung dengan menggunakan kereta hiasan dengan berbagai macam variasi. Dapat dilihat, bahwa di dalam proses pelaksanaannya banyak terdapat nilai-nilai ajaran Islam, khususnya khataman Al-Qur’an, semarang (selawatan barzanji) dan sunatan yang merupakan sunnah Rasulullah SAW yang harus tetap dipanuti dan dijalankan.

Pelaksanaan Sedekah Kampung, selain sebagai pengungkapan rasa syukur atas anugerah dari Sang Pencipta, juga untuk memotivasi dan menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak (generasi muda) untuk belajar dan. mendalami ajaran agama Islam. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha untuk tetap menjaga dan melestarikannya.

  1. B. Rumusan dan Batasan Masalah

Ruang lingkup dan batasan kegiatan penelitian ini menitikberatkan pada penelitian nilai-nilai pendidikan Islam  yang terkandung dalam Tradisi Sedekah Kampung di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip. Atas dasar itulah penelitian ini merumuskan:

  1. Bagaimana proses pelaksanaan Sedekah Kampung di Desa Peradong?
  2. Nilai-nilai pendidikan Islam apa saja yang terkandung dalam Sedekah Kampung?
  1. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
    1. Tujuan:
      1. Mendiskripsikan proses pelaksanaan Sedekah Kampung di Desa Peradong
      2. Mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Sedekah Kampung
      3. Kegunaan Penelitian:
        1. Secara teoritis dapat menambah pengetahuan tentang salah satu bagian dari tradisi masyarakat Bangka Belitung yang masih bertahan hingga saat ini, juga sebagai usaha untuk memperkaya kepustakaan budaya.
        2. Secara praktis diharapkan agar menjadi informasi yang penting bagi pemerintah mengenai tradisi masyarakat Bangka Belitung. Selain itu juga semoga dapat menjadi informasi bagi kajian-kajian yang sejenis.
  1. D. Telaah Pustaka

Berbagai peneletian yang telah dilakukan sebelumnya, mengenai tradisi keagamaan yang di dalamnya memuat berbagai ritual, seperti penelitian yang dilakukan oleh Y. Sumandiyo Hadi di wilayah Parokial Ganjuran Kabupaten Bantul, tentang “Pembentukan Simbol Eksprensif Dalam Ritual Agama: Studi Tentang Inkulturasi Liturgi di Gereja Katolik Paroki Ganjuran, Bantul, Yogyakarta”, menyebutkan bahwa inkulturasi bentuk upacara tradisi keagamaan tersebut dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau variasi (deferensiasi). Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh kebudayaan Indonesia di masa lalu yang masih mewarnai sampai sekarang, yaitu adanya dualisme kebudayaan yang menunjukkan dua sub sistem dalam masyarakat nasional.[18]

Dari hasil penelitian tersebut, menunjukkan bahwa pembentukan simbol dalam upacara liturgi sebagai proses inkulturasi Jawa yang mengandung unsur mitos, banyak dapat dilihat misalnya pemujaan dengan ngobong menyan atau membakar kemenyan dengan anglo, jenis toya suci kembang telon, simbol makna angka sembilan, angka tiga, simbol warna, ngalab berkah gunungan, dhahar kembul berupa kue apem, dan sebagainya, dipercaya mengandung magi kekuatan atau kebaikan.[19]

Sejalan dengan hal di atas, Harapandi Dahri juga melakukan penelitian serupa terhadap tradisi Tabot di Bengkulu. Dari penelitiannya, membuktikan bahwa di dalam tradisi tabot tersebut memiliki beberapa ritual, di antaranya; mengambik tanah (mengambil tanah), duduk penja (mencuci jari-jari), menjara (berkunjunga), meradai (mengumpulkan dana), arak penja (mengarak jari-jari), arak serban (mengarak surban), gam (tenang berkabung), arak gedang (taptu akbar), dan tabot tebuang (tabot terbuang).

Dari penelitian tersebut terdapat tiga nilai-nilai yang terkandung dalam upacara pelaksanaan tabot, yaitu; nilai agama (sakral), sejarah, dan sosial. Nilai agama (sakral), pertama, dalam proses mengambik tanah  mengingatkan manusia akan asal penciptaanya; kedua, pengunaan mantra-mantra dan ayat-ayat suci dalam prosesi mengambik tanah, esensinya adalah untuk menyadarkan kita bahwa keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya lokal; ketiga, pelaksanaan upacara tabot merupakan perayaan untuk menyambut tahun baru Islam.

Sementara, nilai sejarah yang terkandung dalam budaya tabot adalah sebagai manifestasi kecintaan dan untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali yang terbunuh di Padang Karbala.

Adapun nilai sosial yang terkadung di dalamnya antara lain mengingatkan manusia akan praktik penghalalan segala cara untuk menuju puncak kekuasaan dan simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial.[20]

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Ermiwati di Dusun Pejem Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu, Bangka tentang adat istiadat Suku Mapur di Dusun Pejem, dengan memfokuskan penelitian pada aspek dampak adat istiadat terhadap kehidupan keagamaan masyarakat Islam Suku Mapur.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dampak positif dari adat istiadat (ajaran leluhur) adalah sebagai penata masyarakat, salah satu di antaranya toleransi terhadap keyakinan orang lain yang masih kental diterapkan, terutama kepada agama Islam.[21]

Dari penelusuran kepustakaan ini, menunjukkan bahwa tradisi keagamaan yang dinamakan dengan ’Sedekah Kampung’ yang berkembang di lingkungan pedesaan, khusunya di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip berbeda dengan di tempat lainnya. Walaupun maksud dari pelaksanaan tersebut sama, namun corak dan gayanya berbeda. Tidak menuntut kemungkinan adanya pengaruh atau perembesan budaya, dari budaya yang dipandang lebih tinggi, yang biasanya memancarkan sinarnya kepada budaya rakyat atau desa.

Sedekah Kampung tergolong sebagai upacara jenis ceremony karena Sedekah Kampung merupakan tingkah laku pengukuhan dari pernyataan kelompok terhadap situasi tertentu, sebagai pengungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Setelah penelaahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian terhadap tradisi Sedekah Kampung di Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip, dengan memfokuskan pada aspek nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya.

  1. E. Landasan Teori

Pernyataan Geertz yang menjelaskan bahwa kebudayaan dapat dilihat pada peristiwa-peristiwa publik seperti ritual, festival atau perayaan tertentu karena pada peristiwa-peristiwa tersebut orang mengekspresikan tema-tema kehidupan sosial melalui tindakan simbolik. Sebagai sistem-sistem yang saling terkait dari tanda-tanda yang dapat ditafsirkan (dengan mengabaikan pemakaian yang sempit, akan disebut simbol-simbol), kebudayaan bukanlah sebuah kekuatan untuk memberikan ciri kausal pada peristiwa-peristiwa sosial, perilaku-perilaku, pranata-pranata, atau proses-proses. Lanjutnya, kebudayaan merupakan sebuah konteks yang di dalamnya semua hal itu dapat dijelaskan dengan terang yakni secara mendalam.[22] Menurut Geertz, seorang antropolog dapat melakukan interpretasi terhadap kejadian-kejadian atau kelakuan masyarakat dengan memperlakukannya sebagai ‘teks’ (teks sosial), yakni sebagai model realitas dan model untuk realitas sehingga dapat mengungkapkan makna di balik pola sosial dimaksud.

Dalam tradisi, ‘teks’ tersebut berupaya menggambarkan kepada masyarakat bagaimana berkelakuan.[23] Eaton memberikan penjelasan, bahwa ”tradisi-tradisi agama yang ‘diturunkan’ atas manusia (meminjam frase yang sering digunakan Al-Qur’an) mengaku menawarkan sebuah paspor menuju surga. Jika hal ini benar; sesungguhnya ia merupakan kekayaan yang tak ternilai juga.”[24] Tradisi sebagai salah satu bagian dari kebudayaan sebagaimana telah dikemukakan oleh pakar hukum F. Geny adalah fenomena yang selalu merealisasikan kebutuhan masyarakat yang dikuatkan adat yang baku, yang tercermin dalam penghormatan tradisi yang baku dan perasaan individu dengan rasa takut ketika melanggar apa yang telah dilakukan pendahulu mereka.

Konsep mengenai nilai-nilai agama sebagaimana  digambarkan kaum orientalis Eropa tentang kehebatan Islam yang dengan nilai-nilai Samawi-nya mampu menggerakkan umat menjadi dinamis, maju lahir dan batin. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), nilai samawi harus mampu berfungsi secara aktual sebagai filter, selektor, dan pengontrolan terhadap akibat negatif nilai-nilai yang ditimbulkan oleh kemajuan iptek tersebut.[25] Dengan demikian pendidikan Islam dapat memberikan kemampuan untuk pencernaan terhadap perkembangan tersebut.

Pendidikan, jika dipersepsikan sebagai alat enkulturasi umat manusia, maka segala bentuk atau unsur pengaruh dari perubahan sosial juga melanda dunia pendidikan, karena pendidikan sangat erat hubungannya dengan kondisi masyarakat yang harus dibudayakan.[26] Dalam tradisi Sedekah Kampung yang kental dengan nuansa keagamaan, memiliki nilai-nilai ajaran Islam yang dibungkus dalam ritual keagamaan, memainkan peranan penting bagi kelangsungan pendidikan Islam secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itulah pendidikan, khususnya pendidikan Islam diperoleh tidak hanya melalui institusi pendidikan saja, melainkan juga bisa melalui berbagai hal.

Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Sedekah Kampung ini menggunakan pendekatan ’antropologi budaya’ (sering disebut dengan antropologi atau antropologi sosial budaya) yang berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial atau manusia sebagai makhluk yang hidup dalam kelompok atau masyarakat.[27] Seperti pernyataan yang dikembangkan oleh Ralp Linton bahwa kebudayaan mencakup seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan. Kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan, yang meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap dan juga hasil dari kegiatan yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.[28]

  1. F. Metodologi penelitian
    1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif.[29]

  1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah masyarakat Desa Peradong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat terutama sebagai narasumber, yaitu tetua adat (sebagai narasumber utama), tokoh agama, dan penghulu. Sedangkan kepala desa, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat hanya dijadikan sebagai informan.

  1. Jenis dan Sumber Data
    1. Jenis Data

Dari sumber data yang telah dihimpun di lapangan, maka jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang merupakan bentuk luar dari ciri-ciri yang teramati yang membantu dalam memahami interpretasi yang diberikan informan. Jenis data dalam penlitian ini adalah jenis data kualitatif, data yang merupakan interpretasi yang dikemukakan oleh informan, yaitu data yang dihimpun, yang berhubungan dengan ritual tradisi Sedekah kampung, kehidupan beragama, nilai-nilai pendidikan Islam dan aktivitas kebiasaan masyarakat Desa Peradong.

  1. Sumber Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini diambil dari:

1)      Data primer adalah data yang didapatkan dari narasumber dan informan. Selain itu, data tersebut diperoleh melalui pengamatan di lapangan (pada waktu pelaksanaan tradisi Sedekah Kampung).

2)     Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber-sumber yang mendukung seperti dokumentasi, arsip desa, balai adat, catatan  pribadi, dan referensi yang berkaitan dengan penelitian.

  1. Metode Pengumpulan Data
    1. Wawancara mendalam dan langsung (indepth interview) kepada narasumber dan informan. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data berupa sejarah dilaksanakannya Sedekah Kampung, upaya masyarakat mempertahankan tradisi, unsur-unsur ritual yang terkandung, nilai-nilai pendidikan Islam dan tujuan dilaksanaannya.
    2. Observasi langsung terlibat (participant observation), teknik/metode ini digunakan untuk mendapatkan fakta-fakta empirik yang tampak (kasat mata) dan guna memperoleh dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang diteliti,[30] yang digunakan untuk mendapatkan data mengenai kehidupan beragama dan aktivitas kebiasaan masyarakat Desa Peradong.
    3. Dokumentasi, metode ini merupakan pengumpulan data yang mendukung kegiatan penelitian, seperti data asal usul Desa Peradong, letak wilayah, kondisi geografis, kependudukan, sosial budaya, fasilitas sosial, struktur pemerintahan desa, dan kehidupan beragama, lebih singkatnya potret masyarakat Desa Peradong.
    4. Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul dan dihimpun, selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam penelitian kualitatif ini, data yang terkumpul dianalisis setiap waktu secara induktif selama penelitian berlangsung dengan mengolah bahan empirik (synthesizing), supaya dapat disederhanakan ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca, dipahami, dan diinterpretasikan.[31] Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan menghubungkan dan menafsirkan hasil data kemudian memberi kesimpulan induktif berdasarkan/berkenaan dengan kualitas atau mutu, juga disebut dengan analisis data kualitatif, yaitu data yang berhubungan dengan katagorisasi, karakteristik atau sifat sesuatu.[32]

2. POTRET MASYARAKAT PERADONG

  1. A. Asal Mula Desa Peradong

Masyarakat Peradong pada awalnya tinggal di daerah perbukitan dan pesisir pantai, kemudian mereka bercocok tanam di daerah tersebut. Setelah sekian lama tinggal, mereka merasa butuh tempat untuk bermukim (menetap dalam sebuah perkampungan). Setelah dilakukan pertemuan untuk menentukan tempat bermukim, maka diutuslah salah seorang di antara mereka untuk menelusuri daerah tersebut dan mencari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat bermukim. Kemudian ditemukanlah tempat tersebut, yaitu di kawasan dataran rendah dekat dari sungai yang kemudian sungai tersebut dinamakan dengan Sungai Pelangas. Dinamakan dengan Sungai Pelangas karena sumber aliran sungai tersebut berasal dari Gunung Pelangas, yang alirannya melewati Desa Berang hingga ke Desa Peradong. Dari Desa Peradong aliran sungai mengalir hingga ke pesisir pantai dan bertemu dengan air laut. Pertemuan antara air sungai dengan air laut tersebut disebut dengan ’muara’,[33] atau masyarakat setempat biasa mengenalnya dengan sebutan ’kuala’. Pantai tersebut kemudian dinamakan dengan Pantai Mesirak dan 200 meter berikutnya ada juga pantai yang dinamakan dengan Pantai Metibak. Kedua pantai ini bila ditelusuri menuju hingga ke Pantai Tanjung Ular yang berada di daerah Muntok kabupaten Bangka Barat.

Setelah itu mulailah penduduk melakukan penggarapan di tempat mukim (tempat tinggal) yang baru tersebut. Seperti diceritakan oleh Kek Jemat seorang tetua adat Desa Peradong (dikenal sebagai dukun kampung), bahwa “sewaktu penduduk tersebut mulai melakukan penggarapan tempat mukim yang baru tersebut, banyak kayu-kayu (pohon) besar yang harus ditebang”.[34] Kayu tersebut dikenal penduduk dengan sebutan kayeow Peradong yang besarnya sampai tige pelok (tiga pelukan orang dewasa). Untuk menebang kayu tersebut menurut tetua adat harus menggunakan/memberikan sesajen (sesembahan), berupa bubur puteh mirah[35] ditambah dengan pulot  item[36] dan telok ayem butet.[37]

Inilah cikal bakal berdirinya Desa Peradong (Kapong Peradong). Mungkin dinamakan demikian karena banyaknya kayu Peradong yang besar-besar. Bahkan menurut Kek Jemat bahwa; ”Kapong Peradong ik adelah kapong yang paling dulok kalei ade di wilayah kita suwat ik (di Kecamatan Simpang Teritip, Kelapa, Jebus dan sekitar Muntok)”.[38] (Kampung Peradong ini adalah kampung–desa–dusun yang paling pertama kali ada di wilayah kita sekarang ini (di Kecamatan Simpang Teritip, Kelapa, Jebus, dan sekitar Muntok)).

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, memang benar Desa Peradong merupakan desa yang pertama kali, tetapi hanya di sekitar Kecamatan Simpang Teritip, khususnya di sekitar Desa Pangek, Air Nyatoh, dan Berang. Seperti diceritakan oleh Atok Pardi (dikenal masyarakat dengan panggilan Mang Pek) bahwa Desa Pangek, Air Nyatoh, dan Berang merupakan desa yang tanahya pemberian dari tanah milik Desa Peradong.[39] Hal ini juga dibenarkan oleh Nek Limah, bahwa seingat beliau yang sekarang telah berumur 90-an lebih tahun, Kampung Peradong sudah menjadi tempat tinggal masyarakat.[40] Menurut beliau, bahwa Kampung Peradong telah ada semasa penjajahan Belanda. Untuk keberadaannya tidak diketahui apakah Kampung Peradong telah ada sebelum penjajahan Belanda atau semasa penjajahan Belanda. Pada masa itu, untuk jabatan kepala desa masih menggunakan istilah Gegading.[41]

  1. B. Letak Wilayah

Desa Peradong mempunyai dua dusun, yaitu Dusun Peradong dan Dusun Menggarau. Antara Dusun Peradong dan Dusun Menggarau dibatasi oleh Sungai Pelangas. Desa Peradong menempati wilayah seluas 40 Km², memiliki tanah basah seluas 5,6 ha, hutan lindung seluas 221 ha, hutan produksi seluas 272 ha, dan hutan konversi seluas 165 ha.[42] Secara administratif batas wilayah Desa Peradong, di sebelah utara berbatasan dengan Desa Air Nyatoh, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pengek, sebelah barat berbatasan dengan Laut Natuna, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Desa Berang dan Desa Ibul. Dengan orbitasi jarak tempuh ke ibu kota kecamatan sekitar 5 Km, jarak ke ibu kota kabupaten sekitar 39 Km, dan jarak tempuh ke ibu kota provinsi sekitar 105 Km.

Gambar I

Peta Kecamatan Simpang Teritip dan Desa Peradong

Kabupaten Bangka Barat

  1. C. Kondisi Geografis

Secara geografis terletak pada 105˚.00-106˚.00 detik  Bujur Timur  dan 01˚.00-02˚.00 menit Lintang Selatan dengan curah hujan rata-rata 100 mm per bulan atau sekitar enam bulan jumlah bulan hujan (tergolong iklim tropis dan basah), dan suhu udaranya berkisar antara 23,5˚C sampai maksimum 31,1˚C.[43]

Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah, sebelah barat berupa pesisir pantai, sedangkan sebelah timur dan utara berupa bukit dan hutan tropis. Desa Peradong juga memiliki sungai kecil dan cadangan hutan  yang luas, iklim dan curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun sangat menguntungkan bagi pertanian dan nelayan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

  1. D. Penduduk
    1. 1. Jumlah Penduduk

Berdasarkan data kependudukan, Desa Peradong memiliki jumlah penduduk 1546 jiwa dari jumlah laki-laki 771 jiwa dan perempuan 775 jiwa yang terdiri dari 323 kepala keluarga (KK) dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 2% per tahun.[44]

Dilihat dari asal penduduk, sebagian besar (90%) merupakan penduduk asli keturunan masyarakat Desa Peradong (Melayu) dan Tionghoa (Cina), selebihnya sekitar 10% merupakan pendatang yang berasal dari luar daerah, seperti Sumatra, Bangka, dan Jawa.

  1. 2. Agama dan Kepercayaan

Sebagian besar penduduk Desa Peradong beragama Islam (98,6%) dari jumlah penduduk 1546 jiwa, yaitu 1521 orang dan 25 orang beragama Budha. Jumlah rumah ibadah yang ada di Desa Peradong terdiri dari:

  • Masjid              :  2 Buah
  • Mushalla           :  2 Buah
  • Kelenteng         :  1 Buah (tidak difungsikan lagi)

Jumlah tersebut, satu masjid dan dua mushalla terdapat di Dusun Peradong dan masjid yang satunya terdapat di Dusun Menggarau. Sedangkan satu buah kelenteng tersebut terdapat di Dusun Menggarau dengan keadaan tidak difungsikan lagi karena telah dialihkan ke kecamatan (di lingkungan mayoritas orang Cina).

  1. 3. Mata Pencaharian

Pada umumnya masyarakat Desa Peradong tergolong masyarakat kehidupan sederhana dan tradisional. Tingkat ketergantungan hidup pada kekayaan alam seperti laut, sungai, tanah, hutan, dan tambang timah masih relatif tinggi. Seperti keterangan dalam Selayang Pandang Kabupaten Bangka bahwa masyarakat Bangka secara turun temurun mengembangkan tanaman karet, sahang (lada), kelapa, dan kelapa sawit yang sebagian besar hasilnya diperdagangkan ke luar daerah atau ke luar negeri.[45]

Secara garis besar masyarakat Peradong tergolong tingkat penghasilan menengah ke bawah per bulannya, yang menunjukkan kehidupan tergolong kelompok ekonomi lemah. Untuk jumlah penghasilan rata-rata masyarakat Peradong dapat dilihat pada tabel III. Hal ini berdasarkan tingkat hidup masyarakat di Bangka Belitung yang relatif tinggi dan berdasarkan upah minimum kabupaten (UMK) Bangka Barat tahun 2009, yaitu Rp. 978,000,- per bulan.

Kebodohan menyebabkan mereka dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidup masih dengan cara tradisional yang diajarkan turun temurun. Pertanian dan perkebunan merupakan usaha pokok yang dilakukan masyarakat Peradong sebagai sumber kehidupan. Umumnya masyarakat Peradong bertani di lahan yang dimilikinya dalam jangka waktu lama dengan ragam tanaman yang kualitas dan kuantitasnya rendah. Artinya tanaman tersebut hasil dari pembibitan masyarakat sendiri, yang tentunya diambil dari tanaman mereka yang terdahulu. Sehingga tidak memungkinkan untuk menghasilkan kualitas yang baik.

Hasil pertanian hanya dipergunakan sendiri dan sebagian kecil dijual. Keterbatasan modal dan sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini menjadikan petani dan nelayan di Desa Peradong terpuruk dalam perekonomian yang lemah. Pola kehidupan sederhana dengan menerima apa adanya adalah yang dijalani masyarakat setempat.

Di samping pertanian dan perkebunan, masyarakat Peradong juga sebagai pedagang, wiraswata dan nelayan yang merupakan mata pencaharian pokok. Selain itu juga masyarakat Peradong sebagai budidaya (perikanan), peternak, dan sebagai buruh harian tambang inkonvensional (TI). Pekerjaan ini mereka lakukan sebagai pilihan alternatif untuk menunjang dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

  1. 4. Pendidikan

Pendidikan wajib belajar sembilan tahun di Desa Peradong belum terlaksana dengan baik, hal ini faktor utamanya dikarenakan di Desa Peradong belum memiliki sekolah lanjutan dan rendahnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang selanjutnya. Orangtua yang anaknya ingin melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama harus keluar dari desa tersebut, sekolah lanjutan pertama (SLTP) hanya ada di ibu kota kecamatan, yaitu di Simpang Teritip dengan jarak tempuh sekitar 5 km atau + 5-10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor, karena faktor jalan yang rusak (banyak berlubang). Untuk jejang SLTA juga harus ke ibu kota kecamatan, sedangkan untuk perguruan tinggi (PT) harus ke luar kabupaten, karena di Kabupaten Bangka Barat hanya ada Universitas Terbuka (UT), itupun khusus bagi guru. Hal ini tentu saja sangat memberatkan bagi pihak orangtua karena lokasi sekolah lanjutan di luar daerah banyak membutuhkan biaya, baik untuk biaya kebutuhan sekolah maupun biaya transport. Penyebabnya, karena penghasilan mereka tidak sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Hal ini juga yang menyebabkan angka lulusan tingkat pendidikan minim.

Masyarakat Peradong dengan angka lulusan tingkat pendidikan minim, sangat mempengaruhi perkembangan dan pertahanan ekonomi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dapat dilihat dari angka tersebut, yang lulusan sarjana (S1) hanya dua orang itupun bukan dari perguruan tinggi formal, melainkan dari UT (universitas terbuka). Sedangkan untuk lulusan D2 4 orang (UT), SMA 25 orang, SMP 48 orang dan SD hanya 92 orang untuk tahun kelulusan hingga tahun 2008, selebihnya tidak tamat sekolah dan tidak sekolah sama sekali. Untuk tempat menyelenggarakan pendidikan tersebut, di Desa Peradong hanya terdapat 1 SD Negeri (SDN 6 Simpang Teritip) dan 1 PAUD.

Banyaknya jumlah masyarakat yang hanya tamat SD dan yang tidak sekolah dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang tergolong rendah dan rendahnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah lanjutan. Faktor tersebut karena kurang terpenuhinya biaya kehidupan sehari-hari, yang hanya banyak mengharapkan hasil dari kekayaan alam, walaupun ada sebagian masyarakat berprofesi sebagai pedagang, wiraswasta dan pegawai negeri.

Akibat dari tidak terpenuhinya biaya hidup, banyak anak-anak yang menjadi korban harus bekerja membantu orangtua. Di antara mereka ada yang melimbang timah, sebagian lagi menjadi pekerja tambang inkonvensional (TI), bahkan menjadi kuli nelayan sebagai penjemur ikan asin.

  1. 5. Etnis

Secara etnis penduduk asli Desa Peradong dikelompokkan menjadi dua, yaitu; Pertama, kelompok  Melayu yang hidup menetap dan berintegrasi dengan penduduk sekitar, yaitu; Air Nyatoh,  Pangek, Simpang Teritip, Berang, Ibul, Pelangas, Simpang Gong, dan Mayang. Kedua, kelompok  Tionghoa (Cina) yang sebagian telah memeluk agama Islam dan sebagian besar berpindah ke daerah lain.

  1. E. Sosial dan Budaya

Dalam kehidupan, Desa Peradong belum mempunyai kendaraan umum untuk alat transpotasi, yang ada hanyalah kendaraan pribadi beroda empat yang dijadikan pengganti alat transportasi tersebut. Di samping itu, kendaraan bermotor juga dijadikan sebagai alat transportasi. Untuk sarana jalan umum, di Desa Peradong sudah cukup baik, walaupun aspal jalannya sudah banyak yang berlubang. Penerangan di Desa Peradong telah menggunakan aliran listrik umum (PLTD) dari Muntok sejak tahun 1997.

Untuk sarana sosial, di Desa Peradong sudah terpenuhi, tinggal merawat fasilitas yang telah tersedia dan melengkapi sarana yang belum terpenuhi. Untuk lebih jelas, lihat data sarana sosial yang ada di Desa Peradong pada tabel berikut.

Masyarakat Desa Peradong pada mulanya tinggal di perbukitan kawasan desa tersebut yang selanjutnya berpindah ke daerah dataran. Kemudian mereka membuat pemukiman menjadi kampung yang terus bertambah dan menyebar menjadi dua wilayah yang dibatasi oleh Sungai Pelangas. Wilayah tersebut dinamakan dengan Peradong (sebagai desa induk) dan Menggarau (yang dijadikan sebagai dusun), sekarang telah ditambah menjadi 2 dusun, yaitu di tambah dengan Dusun Rimbak sebagai dusun baru.

Secara kebudayaan, masyarakat desa Peradong memiliki beberapa tradisi yang telah turun temurun dilakukan, yaitu  Sure[46] (nge-bubur campur-campur) setiap tanggal 10 Muharram, Sedekah Ruwah[47] bulan Sya’ban dan Sedekah Kampung setiap bulan Maulud (Rabiul Awwal). Dua dari tradisi yang dimeriahkan adalah Sure dan Sedekah Kampung.

  1. F. Pemerintahan Desa

Pemerintahan Desa Peradong secara administrasi sudah berjalan lancar, dengan disiplin 5 hari jam kerja sesuai dengan jam kerja Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. Sebelum menggunakan istilah ’kepala desa’ sebagai jabatan tertinggi dalam pemerintahan desa,[48] di Desa Peradong menggunakan istilah ’gegading’.[49] Istilah tersebut berubah setelah Indonesia merdeka. Periode jabatan kepala desa pada waktu itu selama 10 tahun, setelah tahun 2000 baru kemudian dengan  5 tahun periode jabatan. Untuk jabatan sebagai kepala desa di Desa Peradong pertama kali dijabat oleh Saidi (tahun 1978-1986), kemudian digantikan oleh anaknya Almin dengan masa dua periode jabatan (tahun 1986-1994 dan tahun 1994-2002), namun diperiode kedua tidak sampai habis masa jabatan. Ia digantikan oleh Piker sebagai pengganti sementara (Pgs) selama satu tahun (1999-2000), kemudian dilanjutkan oleh Roni (Pgs) selama dua tahun (2000-2002).[50]

Pada tahun 2002, jabatan kepala desa dijabat oleh Kardin (periode 2002-2007). Ia menjabat sebagai kepala desa hanya sampai tiga tahunan dari periode jabatannya. Kemudian ia digantikan oleh Runi Pardi, yang menjabat selama satu tahun (2006-2007). Kardin berhenti menjabat sebagai kepala desa bukan karena ia tidak sanggup lagi untuk memimpin pemerintahan desa, tetapi ia dilengserkan oleh masyarakat. Ia dilengserkan karena dianggap masyarakat tidak pantas lagi menjabat sebagai kepala desa, dan kebetulan juga dia bukan penduduk asli Desa Peradong.

Pada tahun 2007, pemilihan kepala desa dilakukan dengan sistem demokrasi. Ada empat calon yang lolos dari seleksi administrasi, yaitu Runi Pardi, Rahman, Dahlan, dan Haidir. Setelah dilakukan pemilihan, akhirnya Runi Pardi terpilih sebagai kepala desa periode 2007-2012. Ia menjabat sebagai kepala desa hingga sekarang. Dalam menjalankan tugasnya, kepala desa dibantu oleh perangkat desa dan Badan Permusyawarahan Desa (BPD).

  1. G. Kehidupan Beragama

Agama Islam merupakan agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat di Desa Peradong yang dibawa oleh pendatang dari luar Desa Peradong melalui asimilasi secara damai. Islam secara perlahan berhasil membentuk masyarakat Muslim di Desa Peradong.

Kehidupan beragama yang kuat dan kebudayaan lama yang telah melekat pada masyarakat Desa Peradong menjadikan keduanya saling mempengaruhi dalam kehidupan masyarakat. Tidak sedikit yang percaya terhadap mistis walaupun telah beragama Islam. Masyarakat percaya dengan adanya kekuatan-kekuatan gaib yang ada di sekeliling mereka.

Banyak dari penduduk yang masih pergi ke makam-makam yang dianggap keramat sebagai tanda kaul atau menyampaikan permohonan atau ijin sebelum melakukan suatu hal yang dianggap penting, seperti akan diadakannya pesta, mendirikan rumah,  dan melakukan usaha lainnya. Dalam kehidupannya dikenal tahap-tahap upacara dalam lingkaran hidupnya mulai dari pengungkapan atas anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan, kelahiran, menikah, memasuki rumah untuk menetap, sampai kepada upacara meninggalnya seseorang, walaupun sebagian dari hal tersebut telah dihilangkan. Tidak mengherankan jika nilai-nilai keagamaan itu masih melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Peradong. Bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Bangka yang dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Namun uniknya bahasa yang dipakai tersebut tidak begitu dimengerti oleh masyarakat Bangka pada umumnya, kecuali mayoritas di Kecamatan Simpang Teritip.

Walaupun hampir semua penduduk asli Desa Peradong beragama Islam namun masih banyak terdapat unsur-unsur yang tidak bernafaskan Islam. Masyarakatnya masih percaya dengan hal-hal yang berbau tahayyul dan mistik, yang dianggap bisa memberikan keberkahan bagi kehidupan mereka. Seperti halnya memohon kepada makam yang dianggap keramat agar diberikan kemurahan rizki, keselamatan, dan kemudahan hidup.

  1. Pengamalan ajaran Islam

Pengamalan ajaran Islam di Desa Peradong belum dihayati secara sungguh-sungguh ke dalam kehidupan beragama, hal ini tercermin dari prilaku dan ungkapan-ungkapan masyarakat yang belum dilaksanakan sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh umat Islam. Mereka masih sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang kurang baik, seperti ungkapan ’lah gile’ yang diucapkan ketika merasa takjub atau kagum pada sesuatu, atau terkadang ketika mereka mendapat musibah, seperti tersandung dan lain sebagainya mereka mengucapkan ’ubok pulot pukang ayem serabi lembek cacak dudul’ yang artinya nasi pulut/ketan, paha Ayam, kue serabi dingin, bubur cacak dan dodol. Tidak diketahui darimana asal usulnya dan tujuannya untuk apa. Menurut Ana, ungkapan tersebut diucapkan tujuannya untuk mengobati rasa sakit akibat dari musibah yang mereka alami.[51]

Untuk pengamalan agama, di Desa Peradong tergolong rendah tingkat pengamalannya. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pemahaman agama yang kurang. Terlihat dalam hal menjalan ibadah, contohnya shalat (dikenal masyarakat dengan istilah sembahyang) hanya sebagian kecil yang benar-benar menjalankannya (tidak pernah meninggalkannya), itupun dikerjakan sendiri-sendiri (di rumah). Sedangkan di masjid, biasanya hanya jum’at dan magrib saja yang ada jamaahnya. Untuk shalat jum’at, dikerjakan di Masjid Al-’Amal Dusun Menggarau dan di Masjid Baitul Mukminin Dusun Peradong.

Pengajaran agama Islam bagi anak-anak dilakasanakan secara formal di SD Negeri 6 Simpang Teritip. Sedikit demi sedikit mereka menghafal surat-surat pendek dalam Al-Qur’an dan bacaan-bacaan dalam shalat. Minimnya waktu pertemuan pelajaran agama menyebabkan pelajaran ngaji (membaca Al-Qur’an) dilakukan di luar jam pelajaran (sekolah), biasanya dilakukan di waktu sore hari secara non formal. Tempat mereka belajar ngaji di sore hari tersebut di TKA/TPA (Taman Kanak/Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an).

Untuk sarana peningkatan pendidikan agama Islam secara non formal tersebut terdapat dua TKA/TPA, yaitu satu unit di Dusun Peradong dan satu unit di Dusun Menggarau. Jumlah anak yang mengikuti pengajian di TKA/TPA tergolong sedikit, hal ini karena pengaruh orang tua yang tidak mendukung anaknya untuk menitipkannya belajar ngaji di TKA/TPA tersebut.

Sedangkan untuk pengajian ibu-ibu, dilakukan satu kali dalam seminggu, yaitu setiap Kamis sore. Pengajian tersebut dilakukan dengan berpindah-pindah, artinya dilakukan secara bergantian (dari rumah ke rumah). Dalam pengajian tersebut, mereka lebih banyak mengurusi masalah keduniaan saja, seperti halnya arisan, terkadang juga membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan masalah aib (gosip), dan lain sebagainya. Dapat dikatakan bahwa pengajian tersebut hanyalah sebagai jembatan atau wadah untuk mengumpulkan masyarakat (ibu-ibu) untuk kepentingan keduniaan, sedangkan belajar agamanya hanyalah dijadikan sebagai pelengkap rutinitas mereka saja.

Untuk pengajian bapak-bapak dan remaja di Desa Peradong belum ada. Sehingga wajar pemahaman agama masyarakat masih kurang. Hal ini dapat dibuktikan salah satunya dengan jumlah masyarakat yang telah naik haji. Berdasarkan observasi dan wawancara di lapangan, bahwa masyarakat di Desa Peradong yang telah haji hanya dua orang, yaitu pasangan suami istri Hj. Fatemah (tahun 1990-an) dan H. Sulaiman  (tahun 2009).

  1. Kematian

Untuk ritual kematian, warga yang meninggal dunia oleh keluarga atau masyarakat yang ditinggalkan melakukan pemandian, menshalatkan dan menguburkannya sebagaimana mestinya. Setelah ritual kematian selesai, biasanya keluarga dan masyarakat setempat mengadakan pesta kematian, yaitu mengadakan selamatan. Selamatan dilakukan pada malam hari setelah meninggalnya warga, kemudian pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan seterusnya. Dalam ritual pesta kematian tersebut biasanya selalu disertai dengan pembakaran kemenyan dan wangi-wangian.

  1. Perkawinan

Remaja di Desa Peradong yang sudah dewasa dalam memilih pasangannya untuk membina rumah tangga biasaya melalui perkenalan atau sering disebut dengan pacaran. Mereka bebas mencari dan memilih calon pasangannya, orangtua hanya sebagai fasilitator. Pernikahan bagi pasangan yang saling mencintai tentunya lebih memungkinkan bahtera rumah tangga yang mereka jalani bertahan (tidak mudah untuk bercerai).

Dalam prosesi pernikahan biasanya dimulai dengan dilakukannya peminangan (lamaran) oleh calon pengantin laki-laki ke calon pengantin perempuan. Setelah diterima lamaran, kemudian dilakukan penentuan hari dan tanggal untuk melangsungan pernikahan tersebut. Pesta pernikahan biasanya dilakukan di rumah mempelai perempuan.

Dalam tradisi masyarakat Peradong, setelah dilakukan pesta pernikahan di rumah mempelai perempuan, akan dilakukan lagi ngulang runot[52] di rumah mempelai laki-laki.

[53]

4. SEDEKAH KAMPUNG DALAM MASYARAKAT PERADONG

  1. A. Prosesi Pelaksanaan Tradisi Sedekah Kampung
  1. Persiapan Sebelum Upacara

Perayaan Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun temurun dan tidak diketahui asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Perayaan ini biasa dilaksanakan penduduk Desa Peradong setiap tahun bertepatan dengan bulan Maulud (Rabiul Awwal) kalender Hijriyah dan acaranya berlangsung selama 2 hari yang biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Biasanya acara ini dilaksanakan antara tanggal 15 sampai 30 Rabiul Awwal. Sebelum pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat (dukun) sekarang Kek Jemat mengadakan ceriak[54] pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara tersebut.

Pada tanggal yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu penduduk setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari kayu buluh (bambu). Menurut sang dukun, dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik minat orang-orang cina yang berdiam di desa tersebut agar memeluk agama Islam.[55]

Dalam pelaksanaannya, telah mengalami perubahan walaupun hanya dalam hal yang seremonial, contohnya saja dalam hal perayaan yang dahulunya hanya dengan menampilkan musik tradisional, seperti dambus dan campak sebagai hiburan. Sedangkan sekarang sudah dengan musik yang modern. Dari segi ritus, tidak banyak mengalami perubahan, hanya saja dahulunya lebih banyak mengandung mistik, sedangkan sekarang  telah diselaraskan dengan ajaran Islam.

  1. Jalannya Upacara

Setelah persiapan, seperti; batu persucian dan gaharu selesai, kemudian pada hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti; ayam dan bebek untuk diperebutkan setelah ritual upacara permohonan izin dilakukan. Semua peralatan telah dipersiapkan, kira-kira pukul 13.00 WIB siang dimulai dari balai adat, tetua adat bersama penduduk arak-arakan menuju Istana[56] dengan diiringi semarang (selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan sedekah kampung.[57] Setelah sampai di sana, sang dukun kemudian duduk di atas makam bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan mantera.  Setelah pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik ke atas makam dan memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada di atas makam tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penampilan silat yang dilakukan oleh dua orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya melakukan pemberian tangkel (jimat) di empat penjuru, dimulai dari istana tersebut menuju gerbang pintu masuk ke desa sampai akhir perbatasan desa tersebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung.

Dalam pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini, yaitu duduk di atas pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun di atas pagar dan bermain senter. Menurut penduduk, apabila pantangan tersebut dilanggar, maka akan didatangi oleh makhluk-makhluk halus dan mengubahnya menjadi tepuler (kepala dengan wajah terbalik ke belakang). Untuk tetua adat selama acara berlangsung, tidak boleh makan dan minum (berpuasa).[58]

  1. Ritual Tradisi Sedekah Kampung
  1. Tamat Ngaji (Betamat)

Tamat ngaji (betamat/khataman Qur’an) merupakan  upacara yang dilakukan sebagai petanda bahwa seorang yang telah melaksanakan tamat ngaji dianggap telah pandai membaca Al-Qur’an. Upacara ini dilakukan dalam rangka mensyukuri anak-anak khususnya dan remaja yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’an. Dalam tamat ngaji, peserta yang ikut dalam upacara tersebut membaca surat-surat pendek dari Al-Qur’an secara bergantian. Biasanya pembacaan surat-urat pendek tersebut dimulai dari surat Ad-Dhuha sampai An-Naas. Anak-anak dan remaja yang tidak (belum) pernah menamatkan pembacaan Al-Qur’an tentu tidak dapat ikut betamat. Namun bagi mereka yang telah menamatkan  Al-Qur’an boleh mengikuti untuk kedua kalinya. Bagi masyarakat Peradong, tamatnya anak-anak mereka membaca  30 juz Al-Qur’an merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus. Ritual ini memiliki makna dan fungsi yang sangat penting dalam pendidikan keagamaan di masyarakat, karena orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an atau tidak fasih dalam membacanya akan menanggung malu dan mendapat gunjingan dari masyarakat.[59] Untuk upacara ini, tampuk kegiatan dipegang oleh Penghulu mulai acara berlangsung sampai selesai.

Jalannya upacara ini dimulai pukul 15.00 WIB dengan mengadakan arak-arakan penjemputan peserta ke rumah masing-masing. Arak-arakan masyarakat tersebut dimulai dari balai desa diiringi dengan semarang menuju perbatasan kampung, kemudian setelah sebagian peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute kembali menuju ke perkampungan. Kalau dalam upacara Sayyang Pattudu di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, peserta tamat ngaji duduk di atas kuda dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari.[60]

Sedangkan dalam upacara Sedekah Kampung, peserta tamat ngaji duduk di atas sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang dewasa lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya. Setelah semua peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute terus dilakukan menuju ke masjid. Setelah sampai di masjid, acara dimulai dengan sambutan dari penghulu, kepala desa, dan guru ngaji, sebagaimana tersusun dalam susunan acara. Kemudian mulailah tamat ngaji dilakukan, diawali oleh guru ngaji memberikan aba-aba kepada peserta. Mulailah peserta membaca surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, yaitu dalam juz 30 diawali dari surat Ad-Duha terus menerus secara bergantian hingga sampai pada surat An-Naas. Setelah selesai, dilanjutkan dengan pembacaan do’a khatam Al-Qur’an yang biasanya dibacakan oleh penghulu. Akhirnya selesailah upacara tamat ngaji, peserta dan orang tuanya keluar dari masjid menuju ke rumah masing-masing. Bagi orang tua yang mampu, biasanya pada malam harinya atau ada juga sebagian yang langsung  setelah tamat ngaji mengadakan selamatan di rumahnya.

  1. Nganggung

Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena tradisi nganggung merupakan identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.[61]

Nganggung atau Sepintu Sedulang merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung.  Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama.[62]

Dalam acara ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini. Di dalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun, sejenis pandan, dan di cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan rasa bangga.

Namun dalam perkembangannya sekarang, kegiatan nganggung yang masih eksis dipertahankan pada saat memperingati hari besar agama Islam, dan menyambut tamu kehormatan.

  1. Sunat Kapong

Sunat atau khitan secara harfiah berarti sama dengan sunnah dalam bahasa Arab.[63] Sunat atau khitan makna aslinya dalam bahasa Arab adalah bagian yang dipotong dari kemaluan laki-laki atau perempuan.[64] Sedangkan sunat kapong adalah pemotongan ujung penis anak laki-laki dalam ukuran tertentu yang masih menggunakan alat-alat secara tradisional. Alat-alat tersebut seperti daun sirih berfungsi untuk pencegah infeksi, pisau (dahulunya menggunakan bambu yang telah ditajamkan) sebagai alat pemotong ujung penis, gunting, kapas, dan tali dari kain yang digunakan untuk mengikat sekaligus penahan bagi penis agar tidak bergerak. Sunat dimaksudkan di sini hanya bagi laki-laki saja. Sunat merupakan upacara pemotongan ujung penis anak laki-laki dalam ukuran tertentu dalam ajaran Islam bagi anak yang akan memasuki akil balig. Dalam tradisi Betawi, sunat diartikan sebagai proses atau etape pembeda. Bagi seorang anak laki-laki yang telah disunat berarti telah memasuki dunia akil balig, maka dia dituntut atau seharusnya telah mampu membedakan antara yang hak dan yang bathil. Ia sudah selayaknya mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.[65] Dengan kata lain, seorang anak laki-laki yang telah disunat dianggap sudah menjadi manusia yang sempurna dalam arti untuk menjalankan kewajiban sebagaimana halnya manusia dewasa sebagai pengabdi.

Pelaksanaan upacara sunat kapong dimulai pukul 03.00 WIB peserta (anak-anak) yang akan disunat berendam di dalam air (di Aek Kapong) kurang lebih selama 3 jam, hal ini bertujuan untuk menahan rasa sakit pada saat pemotongan ujung penis. Setelah berendam di Aek Kapong selama kurang lebih 3 jam, kira-kira pukul 06.00-07.00 pelaksanaan sunatan dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung), orang Betawi menyebutnya dengan bengkong, yang dilakukan secara bergantian kepada peserta. Sebelum memulai sunatan, diawali dengan bacaan basmalah dan syahadatain oleh anak yang akan disunat. Ini bertujuan untuk membawa suasana yang lebih sakral dan lebih berkesan bagi anak yang disunat. Untuk peralatan yang digunakan masih menggunakan alat-alat tradisional, sebagaimana telah dijelaskan diawal. Setelah selesai, peserta sunat diarak keliling kampung dengan menggunakan kereta hiasan dengan berbagai macam variasi.[66]

Prosesi sunat kapong, sebagaimana dikutip dari http://www.kompas.com tentang proses pelaksanaan sunatan massal di desa Kundi Kecamatan Simpang Teritip yang hampir sama dengan proses pelaksanaan di Desa Peradong:

Menjelang pelaksanaan khitanan adat, dini hari sekitar pukul 03.30, warga dibangunkan dengan pukulan kenong oleh Jenang dari Balai Pertemuan sederhana yang disebut warga Kundi sebagai balai desa. Pukulan kenong itu terdengar jauh juga, sehingga bisa membangunkan orang yang tengah terlelap tidur. Meski demikian, kehidupan pasar malam di Kundi yang berlangsung sampai hampir tengah malam, agaknya banyak membuat warga Kundi kelelahan sehingga hanya sedikit yang bisa datang ke balai desa.

Di balai desa inilah empat anak yang akan dikhitan kemudian duduk bersama dua orang Jenang, dibacakan doa, sementara sejumlah warga lainnya, tua maupun muda, melakukan tarian Tabo dengan diiringi kenong dan tiga gendang. Beberapa seri tarian Tabo dimainkan, sampai kemudian para anak yang akan dikhitan dibawa berjalan beriringan menuju sungai yang lebih mirip kolam. Di tempat yang jauhnya sekitar satu kilometer dari Bal.

Di desa inilah, keempat anak itu kemudian diminta berendam di sebuah kolam yang terlebih dulu didoa-doai oleh dua orang Jenang. Anak-anak itu ditemani para orang tua, sebagian warga, dengan iringan musik kenong dan gendang. Dari pukul 04.00 sampai 06.20 keempat anak itu berjongkok merendam setengah badan bagian bawahnya dalam air, membius kemaluan mereka agar tidak terasa sakit ketika dikhitan nanti.[67]

Setelah upacara sunat kapong selesai, kemudian anak-anak tersebut diarak keliling kampung didampingi teman-temannya yang sebaya. Arak-arak dilakukan dengan menggunakan tandu dan sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai macam hiasan dan diiringi dengan semarang, mulai dari ujung kampung  (tempat sunat dilaksanakan, di dekat aek kapong) menuju lorong (gang) hingga ke jalan umum, kemudian diselingi dengan penampilan pencak silat dan akhirnya kembali ketempat masing-masing.

Sebagai contoh, dalam adat Betawi peserta (pengantin sunat) diarak duduk di atas kuda yang dirias dengan sedemikian rupa, antara lain dengan bunga-bunga dan bermacam buah-buahan. Di dekat ekor kuda digantungkan seikat padi dan sebuah kelapa. Biasanya, si pengantin sunat akan didampingi teman-temannya mengiringinya dengan naik delman. Berjalan di barisan paling depan adalah grup ondel-ondel yang menari berkeliling kampung. Rebana ketimpring terus mengiringi sepanjang perjalanan.[68] Tidak demikian halnya di Desa Peradong, peserta sunat diarak sebagaimana arak-arakan tamat ngaji, sebagaimana telah diuraikan di atas, yaitu dengan duduk di atas sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang dewasa lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya. Rombongan depan adalah sebagai pembaca semarang yang dikomandoi oleh tetua adat.  Setelah selesai, bagi keluarga (orang tua anak) yang mampu, biasanya  mengadakan hajatan (selamatan) di rumah masing-masing.

  1. Semarang

Semarang yang lebih dikenal dengan istilah Selawatan Barzanji merupakan bacaan shalawat yang diambil dari kitab Al-Barzanji[69] yang dibacakan ketika  mengiringi setiap arak-arakan yang dilakukan, baik untuk arak-arakan tamat ngaji maupun untuk sunat kapong. Pembacaan tersebut dilakukan oleh rombongan arak-arakan di barisan paling depan, yang dikomandoi oleh tetua adat. Untuk irama pembacaan tersebut, hanya beberapa orang saja yang masih bisa untuk melafalkannya.

Selawatan tersebut dilakukan tanpa ada paksaan, bagi remaja yang telah bisa membaca selawatan tersebut juga diperbolehkan untuk membaca Semarang. Selain untuk mengiringi arak-arakan, juga untuk memeriahkan dan meramaikan sekaligus untuk menghibur peserta yang diarak. Khusus untuk arak-arakan tamat ngaji, bertujuan untuk memotivasi bagi anak-anak dan remaja lainnya agar menamatkan 30 juz Al-Qur’an, sehingga bisa menjadi peserta tamat ngaji di tahun yang akan datang. Begitu juga dengan arak-arakan sunat kapong, juga untuk memberikan semangat dan keberanian kepada mereka yang belum disunat.

  1. Penampilan Pencak Silat

Upacara ini dilakukan untuk menghibur para penonton yang menyaksikan jalannya kegiatan upacara Sedekah Kampung dan juga untuk menghibur anak yang baru saja di sunat. Selain masyarakat Peradong, banyak para pengunjung yang datang untuk menyaksikan jalannya acara tersebut. Pencak silat tersebut diperankan oleh masyarakat dengan pakaian bebas, bahkan hansip–pun boleh memperagakannya sebagai aktor.

Pencak silat ini tidak seperti silat pada umumnya, karena dalam pencak silat ini hanya menirukan sebagian gerakan-gerakan jurus silat saja. Dalam penampilannya, terlihat sedikit lucu karena gerakan-gerakannya bukan gerakan-gerakan dalam jurus silat. Gerakan tersebut dilakukan sesuai dengan gaya masing-masing pemeran dengan sedikit meniru gerakan dalam jurus silat kampung. Yang menarik perhatian dari penampilan pencak silat tersebut, adalah ketika pemeran (sebagai aktor) berupaya memperebutkan dan mempertahankan uang yang telah didapat (dalam kekuasaan), yang diletakkan oleh masyarakat dan pengunjung yang dikeluarkan dengan suka rela.

Dengan gayanya yang sedikit konyol, mereka–pemeran berupaya mempertahankan uang yang telah mereka dapatkan agar tidak diambil oleh pemeran lainnya. Penampilan ini biasanya dilakukan oleh dua orang.

  1. B. Sedekah Kampung dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Peradong

Tingkat pengamalan ajaran agama masyarakat Peradong secara umum tergolong masyarakat yang pengamalannya biasa-biasa saja. Artinya ada sebagian yang taat dan sebagian lagi tidak taat. Dari segi akhlak, tergolong rendah tingkat pengamalannya (menengah ke bawah). Sedangkan dari sisi syari’at, tergolong tingkat pengamalan menengah ke atas.[70] Dengan demikian masyarakat tersebut dikategorikan masyarakat yang menjalankan ajaran agama, walaupun tidak secara keseluruhan (sempurna).

Dalam pemahaman ajaran agama, masyarakat Desa Peradong tergolong muqallid, yaitu mengikuti orang lain dalam i’tikad (perkataan dan perbuatan) yang semata-mata berbaik sangka tanpa alasan yang tepat untuk mengikutinya.  Mereka tidak berfikir yang menjadi dasar akidah Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits, tetapi yang terpenting adalah pikiran dinamis yang tidak dibebani oleh kekeliruan-kekeliruan yang turun temurun. Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat yang telah tersentuh oleh perkembangan zaman, yang mengamalkan ajaran agama merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits, hanya saja tidak konsisten (sungguh-sungguh) dalam pelaksanaannya.

Nuansa sifat masyarakat Desa Peradong yang memiliki sistem kekerabatan yang tinggi menyebabkan setiap kegiatan sosial dan agama dilakukan secara gotong-royong dan tolong-menolong. Mengenai yang dilakukan, benar dan salah tidak menjadi sorotan, orientasinya adalah keamanan dan ketentraman hidup bermasyarakat. Perbuatan benar atau salah tergantung dari baik atau buruknya tujuan dari perbuatan yang dilakukan. Begitu juga dengan tradisi Sedekah Kampung yang dilakukan setiap satu tahun sekali, di dalamnya terdapat berbagai macam unsur; seperti mistik (alam gaib), khurafat dan tahayul. Nilai Islam yang mendominasi dalam tradisi, membuat ketiga unsur tersebut secara perlahan sirna.

Sedekah Kampung dalam kehidupan beragama masyarakat Desa Peradong memiliki peranan yang sangat penting dalam menjalankan ajaran agama, khususnya bagi generasi muda. Peran tersebut adalah memberikan dorongan bagi generasi muda untuk lebih menjalankan ajaran agama, terutama dalam hal menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW, dalam sunat kapong dan dalam hal belajar membaca Al-Qur’an. Tidak hanya itu, juga sebagai perwujudan atas kecintaan kepada nabi, dengan memperingati hari kelahirannya.

Dalam sunat kapong, bagi anak yang telah disunat merupakan bukti atau pertanda bahwa mereka telah balig dan wajib menjalankan ajaran agama (Islam) secara kaffah (menyeluruh), baik menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. Setelah disunat, mereka diarak keliling kampung dengan tujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat akan pentingnya disunat/khitan bagi seorang anak yang telah cukup usia, juga sebagai motivasi bagi anak-anak lainnya yang belum disunat untuk besunat di tahun depannya. Tentu hal ini memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup beragama msayarakat Peradong, karena sunat merupakan puncak pensucian diri sebelum syarat dan rukun dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Selanjutnya, dalam tamat ngaji yang terlebih dahulu dilakukan arak-arakan penjemputan bagi peserta yang kemudian rutenya berakhir ke masjid dan langsung memulai tamat ngaji tersebut. Tujuan arak-arakan tersebut adalah untuk memberikan semangat dan kegembiraan bagi mereka yang akan melaksanakan tamat ngaji. Selain itu, dilakukannya tamat ngaji adalah sebagai pemotivasi bagi mereka yang belum tamat untuk lebih giat lagi belajar membaca Al-Qur’an (mengaji).

Setiap arak-arakan yang dilakukan, selalu diiringi dengan semarang atau selawatan barzanji. Hal ini sebagai bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, karena di dalam semarang tersebut banyak membaca dan melantunkan shalawat atas nabi. Juga sebagai isyarat akan pentingnya bershalawat kepada nabi.

Dalam kehidupan sosial, sedekah kampung mengingatkan akan pentingya gotong-royong dan tolong-menolong sesama, serta rasa persaudaraan masyarakat Peradong yang masih kental yang terlihat dalam acara nganggung. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an:

… وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ آلْعِقَابِ

Artinya: ”… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah: 2).”[71]

Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya sedekah kampung bagi kelangsungan hidup beragama masyarakat Peradong, terutama dalam hal beribadah kepada Allah SWT. Selain berfungsi sebagai pendorong bagi kelangsungan hidup beragama masyarakat, sedekah kampung juga mempunyai beberapa nilai pendidikan Islam, yang secara tidak sadar telah memberikan pendidikan Islam bagi masyarakat setempat. Setidaknya dengan dilakukannya sedekah kampung, yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai islami tersebut memberikan gambaran ajaran-ajaran dalam agama Islam yang harus dan wajib dijalankan oleh makhluk ciptaan-Nya.

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI SEDEKAH KAMPUNG

Dari penjabaran dalam bab-bab sebelumnya, dan berdasarkan survei di lapangan, maka dapat diambil beberapa nilai-nilai pendidikan Islam yang ada dalam tradisi sedekah kampung di Desa Peradong, yakni; nilai keimanan, ibadah, dan kesehatan.

  1. 1. Nilai Keimanan

Dalam tradisi Sedekah Kampung yang memiliki beberapa ritual, khususnya pada upacara sunat kapong, tamat ngaji, dan semarang (selawatan barzanji) selalu diawali dengan kalimat ‘basmalah’, mengandung nilai keimanan yang sangat kental. Pada sunat kapong, mengandung hal yang baik dalam bidang lahir dan batin, sebagai pelengkap fitrah (keimanan) yang diciptakan Allah SWT untuk manusia dan  sebagai penyempurna agama.

Bagi orang Islam, sunat atau khitan dilakukan dalam bentuk ritual yang benar-benar Islami. Dimulai dari selamatan dengan mengundang orang-orang, kemudian mengantarkan anaknya kepada mudim (tukang sunat). Semua ini dilakukan orang tua karena ia mencintai anaknya dan sebagai rasa tanggung jawab untuk mendidiknya. Bagi anak yang disunat akan menjadikannya lebih giat mempelajari ilmu-ilmu agama dan lebih semangat mengamalkan ajaran agama setelah disunat.

Bagi masyarakat Indonesia, kebanyakan sunat (khitan) dilakukan ketika anak berusia balig.[72] Begitu juga di masyarakat Peradong, sunat juga dilakukan ketika anak telah balig. Sebagai seorang yang telah berdiri sendiri dihadapan hukum Allah SWT, ia berkewajiban untuk berikrar syahadatain.[73] Maka sangat perlu dalam setiap upacara sunat diiringi dengan pengucapan syahadatain oleh anak yang disunat. Pengucapan ikrar syahadatain di hadapan hadirin peserta tasyakuran sunat, tentu akan membawa suasana yang lebih sakral dan lebih berkesan bagi anak yang disunat. Apalagi jika diisi pula dengan ceramah yang materinya mengarah pada makna syahadatain dan kewajiban anak setelah disunat. Sehingga diharapkan anak lebih menyadari keberadaan dirinya sebagai makhluk serta menyadari kewajibannya terhadap Sang Pencipta.

Menurut pemahaman masyarakat Peradong, seseorang yang belum disunat ia belum dianggap selam (beragama Islam).[74] Hal ini sejalan dengan pendapat Imam Al-‘Atha’, bahwa “Apabila orang dewasa masuk Islam, belum dianggap sempurna Islamnya sebelum dikhitan.[75]

Sunat merupakan simbolisasi untuk mengawali keimanan seseorang kepada Tuhan-Nya, di samping sebagai tanda kedewasaan seseorang, ia juga merupakan titik kunci pensucian bagi seorang manusia. Suci (bersih) merupakan syarat utama pengimanan seorang hamba terhadap Tuhan-Nya, karena itu sunat menjadi penting.

Begitu juga dengan tamat ngaji, untuk mencapainya (sebagai peserta tamat ngaji) harus melewati proses belajar membaca Al-Qur’an kepada seorang guju ngaji dengan sungguh-sungguh. Secara tidak langsung, dalam proses belajar tersebut tertanam pendidikan akidah (iman) dan akhlak (prilaku). Dengan demikian akan semakin dalam pemahaman akan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Wujud pengimanan tersebut akan tercermin pada prilaku dalam kehidupan sehari-hari, walaupun tidak semuanya mampu terlaksanakan.

Imam al-Ghazali berkata, “Anak adalah amanat bagi orang tuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang tidak ternilai harganya, masih murni dan belum terbentuk, dia bisa menerima bentuk apapun dan corak manapun yang diinginkan. Jika dibiasakan dengan kebaikan, tentu ia akan tumbuh dengan kebaikan tersebut dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat.”[76] Untuk itulah pengajaran Al-Qur’an merupakan kunci utama sebagai pendidikan wataknya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sina, “Menyiasati permulaan pengajaran Al-Qur’an hanya dengan mempersiapkan fisik dan mental”,[77] dimaksudkan agar sejak kecil anak sudah menyerap bahasa Arab yang bagus dan memantapkan tanda-tanda iman di dalam dirinya.

Di dalam semarang, yang banyak melafaskan shalawat-shalawat Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bukti wujud kecintaan kepada beliau. Setidaknya dengan adanya semarang, dapat mewarnai kehidupan masyarakat Peradong dalam menjalankan ajaran agama. Tinggal bagaimana menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai keimanan yang diberikan sejak anak masih kecil, dapat mengenalkan mereka pada Tuhannya, bagaimana ia bersikap pada Tuhannya dan apa yang mesti diperbuat di dunia ini. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang Luqmanul Hakim adalah orang yang diangkat Allah sebagai contoh orang tua dalam mendidik anak, ia telah dibekali Allah dengan keimanan dan sifat-sifat terpuji. Orang tua sekarang perlu mencontoh Luqman dalam mendidik anaknya, karena ia sebagai contoh baik bagi anak-anaknya. perbuatan yang baik akan ditiru oleh anak-anaknya begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, pendidikan keimanan harus dijadikan sebagai salah satu pokok dari pendidikan kesalehan anak. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa nantinya ia akan tumbuh dewasa menjadi insan yang beriman kepada Allah SWT, melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan keimanan yang sejati bisa membentengi dirinya dari berbuat dan kebiasaan buruk.

  1. 2. Nilai Ibadah

Shalat adalah kewajiban yang mensyaratkan kesucian diri dari hadas dan najis. Sedangkan salah satu sumber timbulnya najis adalah alat kelamin (khasafah). Sementara itu, apabila khasafah masih tertutup oleh kulit (kulup) maka sisa air kencing sulit untuk dibersihkan akibatnya kewajiban shalat praktis tidak terpenuhi lantaran tidak terpenuhinya salah satu dari sekian syarat sahnya shalat. Sunat (khitan) merupakan prasyarat mutlak yang harus dilaksanakan demi terjaminnya kesucian diri dari najis dan demi sahnya shalat. Dengan demikian kewajiban shalat tidak terpenuhi tanpa sunat.

Kewajiban shalat tidak akan tercapai kecuali dengan sunat, maka sunat menjadi wajib. Kewajiban sunat berlaku bagi anak atau orang yang berakal sehat dan sudah balig, karena usia balig merupakan batas taklif (pembebanan hukum syar’i). Dengan sunat, anak dididik melaksanakan ibadah yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Ibadah ritual dalam Islam seperti halnya shalat lima waktu, haji, umroh, membaca Al-Qur’an masing-masing mensyaratkan kesucian diri dari najis dan hadats. Ibadah shalat dan ibadah lain merupakan ritualitas yang dihajatkan oleh setiap Muslim dalam rangka menghambakan diri pada Allah SWT. Sebagai wujud peribadatan seorang hamba kepada Sang Khaliq, tentu ia yang melakukan shalat mengharap shalatnya diterima oleh-Nya. Begitu juga dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tentunya mengharapkan keberkahan dan pahala dari-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Adz-Dzariat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Artinya: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya menyembah-Ku (QS. Adz Dzaariyat: 56).”[78]

Membaca Al-Qura’an merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT dan merupakan ibadah yang banyak membuahkan kebaikan (pahala) dari-Nya. Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an merupakan kunci utama dalam beribadah, salah satunya ketika menegerjakan ibadah shalat, karena di dalam shalat wajib membaca surat Al-Fatihah. Tentang keutamaan membaca Al-Qur’an, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Turmudzy berikut:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عَليهِ  وسلّم مَنْ قَرَأ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ  فَلَهُ حَسَنَةٌ  وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا لاَ اَقُوْلُ : آلَم حَرْفٌ بَلْ حَرْفُ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ  ( رواه الترمذى وقال حديث حسن صحيح )

Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia mendapat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan: ”Alif laam miim” satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”. (HR. At-Turmudzy).[79]

Demikian pula dengan pembacaan semarang yang mengiringi setiap arak-arakan, merupakan bukti ibadah kepada Allah SWT dan wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, karena bershalawat merupakan tanda ibadah kepada-Nya dengan memuji dan menyanjung nabi-Nya.

Dengan dilakukannya tradisi Sedekah Kampung di Desa Peradong, setidaknya membangkitkan semangat bagi masyarakat Peradong dalam menjalankan ajaran agama Islam (beribadah kepada-Nya), khususnya dalam hal membaca Al-Qur’an. Tidak hanya itu, juga memberikan semangat bagi masyarakat untuk hidup saling tolong-menolong dan gotong-royong.

  1. 3. Nilai Kesehatan

Kesehatan adalah impian setiap orang, untuk itulah berbagai cara dan usaha dilakukan agar tetap sehat. Dalam tradisi Sedekah Kampung yang terdapat sikap masyarakat yang saling tolong-menolong dan gotong-royong, tentunya akan memunculkan dampak yang positif bagi kesehatan, baik kesehatan lingkungan maupun kesehatan jasmani dan rohani.

Sunat sebagai salah satu ritual dalam tradisi Sedekah Kampung, termasuk perkara yang disyariatkan Allah SWT kepada hamba-Nya demi menyempurnakan kesehatan jasmani maupun rohani sesuai dengan fitrahnya. [80] Sunat (khitan) adalah aspek penting dalam thaharah (kesucian dan kebersihan) yang sangat ditekankan dalam syariat Islam. Ketika kulit yang menutupi penis tidak disunat, maka air kencing dan kotoran yang lain dapat mengumpul di bawah lipatan kulit. Daerah ini dapat menjadi infeksi dan penyakit karena menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Salah satu majalah kedokteran yang terbit di Inggris, yaitu “British Medical Journal” menulis bahwa sesungguhnya penderita penyakit infeksi alat kelamin dan leher rahim disebabkan oleh suami yang tidak bersih (belum dikhitan).[81] Sunat merupakan sarana yang tepat dalam pendidikan anak, karena dapat mengajarkan kebersihan anak sejak dini.

Ilmu kesehatan modern masih tetap berpendirian bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Banyak ayat Al-Qur’an yang menganjurkan hidup bersih dan teratur. Tidak heran kalau kebersihan merupakan salah satu kewajiban yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW pada pengikutnya dan dijadikan sendi dasar dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: ”…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (bersih). (QS. Al-Baqarah: 222).”[82]

Sebagaimana diketahui, bahwa khitan termasuk sunnah Nabi Muhammad SAW dan petunjuk Nabi Ibrahim AS. Hal ini sudah cukup untuk mengatakannya sebagai keutamaan dan kemuliaan. Di samping nash-nash syariat yang sahih selalu sesuai dengan kenyataan secara ilmiah dan teruji bahwa khitan mempunyai nilai kesehatan. Dari berbagai kesesuaian ini perintah khitan datang dari syariat maupun dari ilmu kedokteran.[83]

Bagi kehidupan manusia, kesehatan jelas sangat penting tidak hanya bagi fisik (lahiriyah) semata, tetapi yang utama adalah kesehatan hati dan akal. Kesehatan diperlukan orang untuk ibadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Dengan demikian tanpa tubuh sehat orang tidak akan bisa menjalankan ibadah dan dia akan merasa berat menjalankannya.

Dalam kesehatan, mengandung nilai keimanan, ibadah, dan akhlak, karena kesehatan merupakan kunci atau prasyarat dalam mencapai dan mewujudkan ketiga hal tersebut. Seperti di terangkan dalam syair Arab; ”Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat”. Dengan demikian, bagaimana mungkin orang bisa menjalankan ibadah, mewujudkan keimanan, dan berakhlak baik, sedangkan akalnya tidak sehat. Begitulah pentingnya kesehatan bagi jiwa seorang manusia.

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Setelah penulis menyelesaikan pembahasan dalam skripsi ini, dapat diambil kesimpulan:

  1. Pelaksanaan sedekah kampung yang jauh hari sebelum tanggal yang ditetapkan diawali dengan mengadakan ceriak (pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara), dan membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari kayu buluh (bambu). Pelaksanaan tradisi sedekah kampung yang berlansung dua hari, hari pertama (Sabtu) diawali dengan upacara permohonan izin, dilanjutkan dengan tamat ngaji dan nganggung di Masjid Baitul Mukmin. Pada hari berikutnya (Minggu) dilakukan sunat kapong dan sore harinya dilakukan upacara penutupan.
  2. Nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Sedekah Kampung di Desa Peradong ada tiga, yaitu; 1) Nilai Keimanan, iman adalah pokok atau dasar-dasar manusia dalam hidup di dunia. Allah SWT telah memberi bibit keimanan yang benar pada anak yang baru lahir; 2) Nilai Ibadah, ibadah yang dilakukan dengan benar merupakan implementasi penghambaan diri kepada Allah SWT; dan 3) Nilai Kesehatan, sunat/khitan adalah bentuk kesehatan yang dapat diterapkan pada anak-anak. Di dalamnya terdapat ajaran yang sangat dibutuhkan, yaitu sunat mengajarkan anak membersihkan alat kelamin.
  1. B. Saran

Diharapkan studi tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Sedekah Kampung ini dapat disempurnakan dengan mengadakan penelitian lebih lanjut dari sisi lain. Sehingga dapat memberikan gambaran lengkap pada tradisi Sedekah Kampung tersebut dalam skala yang lebih luas.

Sebagai generasi muda dan penerus cita-cita bangsa yang berkpribadian muslim, dengan sendirinya mempunyai kewajiban dan tanggungjawab akan kelangsungan agama, umat maupun masa depan bangsa. Untuk tegaknya ajaran Islam, terutama yang menyangkut akidah Islamiyah dan memberikan pembinaan bagi para pengunjung dan masyarakat sekitarnya agar tidak terjerumus pada perbuatan yang berbau syirik.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: